‘Bapak Gegenpressing’ Disebut Masih Tertarik Latih Man United


Ole Gunnar Solskjaer kembali mendapat tekanan terkait dengan posisinya sebagai juru racik Manchester United, pasca kekalahan memalukan dari sang rival Manchester City tadi malam.

Spekulasi mengenai masa depan Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United kembali muncul setelah mereka tumbang 0-2 dari Manchester City. United tampak tak bisa berbuat apa-apa saat hadapi sang rival sekota, meski bermain di Old Trafford.

Kesabaran pada kiprah Solskjaer diantara para pecinta Man United pun kian menipis berkat hasil buruk tersebut. Kabarnya sudah mulai ada pembicaraan soal siapa yang akan menggantikan pelatih asal Norwegia, andai benar-benar dipecat kali ini.

Sebelumnya, nama Antonio Conte sempat muncul sebagai kandidat kuat pengganti dari Solskjaer, khususnya pasca kalah 0-5 dari Liverpool. Namun manajemen United masih menaruh kepercayaan pada Solskjaer, ditambah Conte kini sudah merapat ke Tottenham.

Kemudian ada pula nama, seperti pelatih Leicester, Brendan Rodgers dan pelatih PSG, Mauricio Pochettino sebagai calon manajer baru United. Namun baru-baru ini ada satu nama yang mendadak hangat untuk mengisi peran penting di Man United.

Media Jerman, Bild, melaporkan jika eks pelatih RB Leipzig, Ralf Rangnick masih tertarik untuk jadi manajer Man United jika memang ada kesempatan. Rangnick sendiri sebenarnya sudah dikaitkan dengan kursi manajer Man United sejak dua tahun lalu.

Rangnick, yang kini menjadi kepala olahraga dan pengembangan di Lokomotiv Moscow, dianggap sebagai sosok tepat berkat segudang pengalaman yang dimilikinya. Ia berpotensi menjadi manajer pengganti terlebih dulu, sebelum permanen andai hasilnya memuaskan.

Pria 63 tahun itu sempat mengomentari apa yang salah dari Man United dalam beberapa tahun terakhir pada tahun 2019 lalu. Ia tak memungkiri bahwa United sangat menurun, setelah ditinggalkan seorang Sir Alex Ferguson dan kerap blunder di bursa transfer pemain.

“Sejak Sir Alex (Ferguson) pergi, mereka tertinggal. United tidak memenangkan gelar Liga Inggris sejak ia pensiun. Di klub apapun, jika kamu tidak bisa mendapatkan pemain yang tepat, maka harus setidaknya jangan asal mendatangkan pemain,”ujar Rangnick via The Times tahun 2019.

“Kamu berada di masalah jika melakukannya dalam satu, dua atau tiga jendela transfer berturut-turut.

“Pembangunan klub adalah tentang membangun skuad yang tepat dengan memindahkan pemain yang tepat. Memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 50 persen dengan mendatangkan pemain yang tepat. Maka kamu harus memiliki pelatih terbaik untuk mengembangkan para pemain ini.”

Pernyataan Rangnick itu menunjukan bahwa Ia sangat paham dengan apa yang tengah dibicarakannya. Mayoritas pendukung United tentu tidak menyanggah bahwa kebijakan transfer United jauh dari kata sempurna akhir-akhir ini.

Terbaru, United mendatangkan dua pemain, seperti Donny van de Beek dan Jadon Sancho dalam biaya yang sangat mahal. Namun keduanya belum bisa menunjukan potensi terbaik dan jarang mendapat kesempatan bermain.

Mereka juga masih sedikit terlalu hambur ketika membiarkan nasib para pemain veteran, seperti Jesse Lingard atau Phil Jones tak jelas sekarang. Mereka memiliki gaji yang tak sedikit, tapi kurang berkontribusi selama beberapa tahun.

Selain soal transfer, reputasi Rangnick di Jerman patut jadi pertimbangan United dalam usaha mereka membangun skuad kompetitif. Ketimbang Solskjaer, Rangnick sudah memiliki pakem dan filosofi sepakbola, yang diakui oleh banyak pihak.

Walau prestasinya tak sementereng Thomas Tuchel atau Jurgen Klopp, Ia dianggap sebagai salah satu inovator gaya bermain Gegenpressing. Rangnick pun disebut sebagai salah satu sosok yang memberikan pengaruh pada para pelatih seperti, Klopp, Tuchel, Julian Nagelsmann, dan Ralph Hasenhüttl.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama